Menemukan Dialek Jepang: Kansai-ben, Kanto-ben, Tsugaru-ben, dan Lainnya
Tahukah Anda bahwa Jepang adalah rumah bagi beragam dialek?
Meskipun banyak orang yang familier dengan Hyojungo (bahasa Jepang baku), yang umum digunakan di Tokyo, atau Kansai-ben, dialek yang digunakan di wilayah Kansai termasuk Osaka, ini hanyalah beberapa di antara banyak lainnya.
Faktanya, dikatakan bahwa ada sekitar 40 hingga 50 dialek yang digunakan secara umum di seluruh Jepang.
Anda mungkin terkejut mengetahui betapa beragamnya bahasa tersebut.
Mari kita lihat beberapa dialek menarik yang digunakan di seluruh Jepang!
Dialek yang Digunakan di Jepang
Terdapat beragam dialek yang digunakan di seluruh Jepang. Dialek adalah bentuk regional suatu bahasa, dan di Jepang, dialek ini hadir bersama hyojungo, bentuk standar bahasa Jepang. Dialek biasanya dikategorikan ke dalam beberapa kelompok regional, seperti Hokkaido, Tohoku, Kanto, Chubu, Kinki, Chugoku, Shikoku, Kyushu, dan Okinawa. Seiring waktu, bahasa Jepang telah berkembang secara unik di masing-masing wilayah ini. Dialek-dialek ini tidak hanya berbeda dalam intonasi (tinggi rendahnya suara), tetapi juga dalam pengucapan, kosakata, tata bahasa, dan banyak lagi.
Di Jepang, banyak wilayah dipisahkan dan terisolasi oleh pegunungan dan lautan. Di masa lalu, bepergian melintasi wilayah-wilayah ini jauh lebih jarang—dan seringkali sulit—bagi orang-orang. Akibatnya, komunikasi antarwilayah menjadi terbatas, dan setiap wilayah secara bertahap mengembangkan dialeknya sendiri yang unik.
Seiring meluasnya penggunaan TV, radio, dan internet, bahasa Jepang baku mulai digunakan secara lebih luas di seluruh negeri. Oleh karena itu, di beberapa daerah, dialek lokal jarang digunakan lagi, terutama di kalangan generasi muda. Dialek merupakan bagian penting dalam melestarikan budaya dan sejarah setiap daerah, sehingga mewariskannya kepada generasi mendatang menjadi perhatian yang semakin besar.
Di sisi lain, dalam beberapa tahun terakhir, daya tarik dialek daerah telah dievaluasi kembali. Dialek daerah kini aktif digunakan dalam upaya revitalisasi daerah dan promosi pariwisata. Karya hiburan yang menampilkan dialek seringkali mendapatkan popularitas. Mempelajari dialek dapat membantu Anda berkomunikasi lebih mendalam dengan penduduk setempat, memahami sejarah, cara berpikir, dan bahkan selera humor mereka melalui interaksi. Hal ini juga memungkinkan Anda untuk merasakan kekayaan dan kedalaman bahasa Jepang, dengan ekspresi-ekspresi uniknya di setiap daerah. Jika Anda berkesempatan, kami sangat menganjurkan Anda untuk menjelajahi dan mengapresiasi beragam dialek Jepang.
Bahasa Jepang Standar (標準語: Dialek Hyojungo / Kanto)
Di Jepang, beragam dialek digunakan di berbagai daerah. Namun, jika setiap orang berbicara dengan cara yang berbeda, komunikasi bisa jadi sulit. Itulah sebabnya "Hyojungo" (Bahasa Jepang Standar) dikembangkan — untuk menciptakan bahasa umum yang dapat digunakan oleh orang-orang dari seluruh Jepang agar lebih mudah memahami satu sama lain.
Ini juga merupakan bentuk dasar bahasa Jepang yang diajarkan kepada orang asing ketika mereka mulai mempelajari bahasa tersebut.
Selama periode Meiji (1868–1912), diyakini bahwa bahasa terpadu diperlukan untuk modernisasi Jepang. Oleh karena itu, Hyojungo (Bahasa Jepang Standar) ditetapkan.
Karena Tokyo merupakan pusat politik dan budaya Jepang pada masa itu, Hyojungo didasarkan pada dialek Tokyo (Tokyo-go). Secara bertahap, penggunaan Bahasa Jepang Baku dipromosikan di sekolah-sekolah dan kehidupan publik, dan menyebar ke seluruh negeri melalui media massa seperti televisi dan radio.
Namun, di beberapa daerah, dialek lokal masih mengakar kuat dalam kehidupan sehari-hari. Di daerah-daerah ini, orang sering menggunakan dialek dan Bahasa Jepang Baku, tergantung situasinya.
Ada beberapa kesalahpahaman umum tentang Hyojungo (Bahasa Jepang Standar) — salah satunya adalah bahwa “Hyojungo hanyalah dialek Tokyo.”
Faktanya, meskipun awalnya didasarkan pada dialek Tokyo, bahasa ini telah berkembang dari generasi ke generasi, dengan kata-kata dan ekspresi baru yang ditambahkan seiring waktu.
Selain itu, gagasan bahwa “Hyojungo adalah satu-satunya bentuk bahasa Jepang yang tepat” tidaklah benar.
Dialek merupakan bagian penting yang membuat budaya Jepang begitu unik dan kaya.
Kansai-ben (関西弁: Dialek Kansai)
Kansai-ben adalah istilah umum untuk dialek yang digunakan di wilayah Kinki, termasuk Prefektur Osaka, Kyoto, dan Hyogo. Wilayah Kansai, khususnya Kyoto, berkembang pesat sebagai pusat politik dan budaya selama ratusan tahun. Akibatnya, Kansai-ben mempertahankan banyak kata dan ungkapan klasik, memberikannya latar belakang sejarah yang kaya. Selama periode Edo, Osaka berkembang sebagai pusat perdagangan, yang menghasilkan frasa dan ungkapan unik. Karakteristik ini masih ada di Kansai-ben hingga saat ini.
Dibandingkan dengan bahasa Jepang standar, Kansai-ben memiliki lebih banyak intonasi yang naik turun. Aksen nada yang kuat merupakan salah satu ciri khasnya, dengan akhir kalimat yang sering kali memiliki aksen yang kentara.
Selain perbedaan aksen, Kansai-ben juga memiliki banyak kata unik yang tidak digunakan dalam bahasa Jepang standar. Misalnya, "meccha" (sangat), "honma" (sungguh), dan "akan" (tidak bisa atau tidak bagus) umum digunakan. Kansai-ben sering dianggap terdengar lebih ramah dan ekspresif, dengan selera humor yang tinggi. Karena itu, orang-orang di wilayah Kansai secara aktif menggunakan dialek mereka dalam kehidupan sehari-hari dan cenderung senang berkomunikasi dengannya.
Meskipun sering disebut "Kansai-ben", dialek Osaka, Kyoto, dan Kobe masing-masing memiliki karakteristik uniknya sendiri. Kyoto-ben terdengar lebih halus dan sopan, sementara Osaka-ben energik, bersemangat, dan seringkali humoris dalam cara bicaranya. Kansai-ben secara keseluruhan memancarkan rasa keramahan dan kehangatan, dengan intonasi, kosakata, dan ekspresinya yang khas.
Berikut ini beberapa frasa yang umum didengar dalam kehidupan sehari-hari ketika berbicara Kansai-ben:
なんでやねん! (Nande yanen!)
Frasa ini sering digunakan sebagai bentuk tsukkomi dalam komedi Jepang. Tsukkomi merujuk pada peran pria sejati yang menunjukkan kontradiksi, unsur-unsur yang tidak wajar, atau absurditas dengan cara yang lucu, sebagai tanggapan atas komentar yang dilontarkan oleh boke—pasangan komedi yang sengaja mengatakan sesuatu yang konyol atau tidak tepat sasaran untuk memancing tawa.
おおきに (Ōkini)
“Ōkini” digunakan untuk berarti “arigatou” (terima kasih) dalam dialek Kansai.
ちゃうちゃう (Chauchau)
“Chau chau” dapat digunakan untuk menyangkal sesuatu.
~へん (–hen)
“–hen” digunakan sebagai kata kerja bantu negatif dan muncul di akhir kalimat.
~やん (– yan)
“–yan” digunakan sebagai kata kerja bantu untuk penegasan dan muncul di akhir kalimat.
Lebih dari Sekadar Kansai-ben: Menemukan Tsugaru-ben, Hakata-ben, dan Hiroshima-ben
Di Jepang, terdapat banyak dialek dengan karakteristik yang kaya dan unik, selain Kanto-ben dan Kansai-ben. Berikut beberapa contoh representatif dari berbagai daerah.
Tsugaru-ben (津軽弁: Dialek Tsugaru)
Tsugaru-ben dituturkan di wilayah Tsugaru, Prefektur Aomori, yang terletak di sebelah barat Kota Aomori. Dialek ini begitu berbeda dari bahasa Jepang standar sehingga banyak orang menyebutnya "terdengar seperti bahasa asing" karena pengucapan dan ekspresinya yang unik.
Ciri-ciri utamanya meliputi fakta bahwa kata dan kalimat sering disingkat. Misalnya, frasa "Doko e iku no?" (Mau ke mana?) dapat diucapkan dengan sederhana sebagai "Dosa?", dan "Onsen ni iku tokoro desu" (Saya mau ke pemandian air panas) dapat diungkapkan hanya dengan mengatakan "Yusa".
Selain itu, bunyi bersuara seperti ga, gi, gu, ge, go sering digunakan dalam dialek ini.
Intonasinya juga berbeda dari bahasa Jepang standar. Meskipun banyak kata yang sama, pengucapannya seringkali sangat berbeda.
Ciri khas lainnya adalah tidak adanya perbedaan yang jelas antara bunyi-bunyi tertentu, seperti "su" dan "shi" atau "tsu" dan "chi." Misalnya, baik "sushi" maupun "shishi" (yang berarti singa) dapat dilafalkan dengan cara yang sama—sebagai "sushi."
Akhiran kalimat seperti "–da" atau "–desu" dalam bahasa Jepang standar sering diubah menjadi bentuk seperti "–dabe" atau "–sube" dalam dialek ini. Selain itu, ketika mengajukan pertanyaan, intonasi biasanya naik di akhir kalimat.
Berikut beberapa frasa umum di Tsugaru-ben:
め (saya) – lezat
け (ke) – makan / tolong / gatal / rambut (tergantung intonasi)
わ (wa) – Saya
な (na) / おめ (ome) – kamu (mungkin terdengar kasar bagi orang asing)
へば (he-ba) – baiklah / sampai jumpa
まいね (mai-ne) – tidak baik / tidak baik
わいは!(wai-wa!) / どんだば!(don-da-ba!) – wow! / Apa yang terjadi?!
かちゃくちゃねぇ (kacha-kucha-ne) – berantakan / membuat frustrasi
めんこい (menkoi) / めごい (megoi) – lucu
じょっぱり (johppari) – orang yang keras kepala
Hakata-ben (博多弁: Dialek Hakata)
Hakata-ben umumnya digunakan di Kota Fukuoka, yang terletak di Prefektur Fukuoka.
Salah satu ciri khas Hakata-ben adalah akhiran kalimatnya yang terdengar lebih lembut, seperti "–to" dan "–tai", yang memberikan nuansa ramah dan hangat pada dialek ini. Intonasi di akhir kalimat juga khas, menambah kesan lembut dan ramah.
Alih-alih akhiran bahasa Jepang standar seperti “–da” atau “–desu,” ekspresi seperti “–tai,” “–yaken,” dan “–bai” sering digunakan.
Bentuk baku “–tai (ingin melakukan)” menjadi “–shitaka,” “–te iru (melakukan)” berubah menjadi “–toru,” dan “–kara (karena)” dinyatakan sebagai “–yaken” atau “–ken.”
Selain itu, “–to” sering ditambahkan di akhir kalimat untuk penekanan ringan atau penegasan – serupa dengan mengatakan “you know” atau “I'm saying you” dalam bahasa Inggris.
Berikut beberapa frasa umum di Hakata-ben:
好いとう (suitou) – Aku menyukaimu, aku menyukainya
なんしようと? (nanshiouto?) – Apa yang kamu lakukan?
よか (yoka) – Bagus
わるか (waruka) – Buruk
なおす (naosu) – Untuk menyimpan, untuk merapikan
つ (tsu) – Kuat
むつかしい (mutsukashii) – Sulit
ちかっぱ / ばり (chikappa / bari) – Sangat, super
とっとーと? (tottoto?) – Apakah kamu sudah menyimpannya? (Juga digunakan sebagai sapaan santai)
~ったい (–ttai) – Akhiran kalimat untuk penekanan, seperti “kamu tahu”
Hiroshima-ben (広島弁: Dialek Hiroshima)
Hiroshima-ben, yang dituturkan di Prefektur Hiroshima, memiliki nada yang kuat dan terkadang kasar, tetapi juga mengandung nuansa hangat dan ramah. Akhiran "–ja" pada kalimat ini sangat khas dan memberikan kesan yang kuat tentang karakter Hiroshima.
Bahasa ini juga terdengar lebih monoton dibandingkan bahasa Jepang standar, karena perubahan nadanya lebih sedikit dan intonasinya secara keseluruhan lebih datar.
Salah satu akhiran kalimat yang paling khas dalam Hiroshima-ben adalah "–ja", yang padanannya adalah "–da" atau "–de aru" (menjadi) dalam bahasa Jepang standar. "–ke" berarti "karena", dan versi yang lebih kuat adalah "–jaken". "–toru" digunakan untuk menyatakan tindakan yang sedang berlangsung atau keadaan yang berkesinambungan, mirip dengan "–te iru" dalam bahasa Jepang standar. "–n?" atau "–n ka?" ditambahkan di akhir kalimat untuk membentuk pertanyaan, mirip dengan "–no?" atau "–na no ka?"
Misalnya, Anda mungkin mendengar “–torun?” untuk menanyakan “Apakah Anda sedang melakukan ~?” “–shinsai” berarti “tolong lakukan ~.”
Berikut beberapa frasa umum di Hiroshima-ben:
ぶち (buchi) – sangat, sangat
えらい (erai) – lelah, letih, tangguh
わや (waya) – berantakan, buruk
そがい (sogai) – benar, saya setuju
よーけ (yōke) – banyak, banyak
Tingkatkan bahasa Jepang Anda di TCJ!
Hari ini, kami menjelajahi beberapa dialek representatif yang digunakan di seluruh Jepang—bagaimana?
Ada banyak dialek yang lebih menarik di seluruh negeri, jadi kami mendorong Anda untuk menjelajahinya lebih jauh.
Di TCJ, semua guru kami menggunakan bahasa Jepang standar di kelas, tetapi mereka berasal dari berbagai daerah di Jepang.
Misalnya, saya berasal dari Prefektur Ibaraki, yang terletak di luar Tokyo. Berdiskusi dengan guru dari berbagai daerah mungkin bisa menjadi cara yang bagus untuk mempelajari dialek daerah!
Mari lanjutkan perjalanan belajar bahasa Jepang bersama di TCJ.
- Program Bahasa Jepang Bisnis & Kehidupan Sehari-hari
- ビジネス日本語
- Wawancara
- 日本語上級者
- Tips bahasa Jepang
- kanji
- Ingin Belajar Bahasa Jepang
- Pelajaran privat
- Bahasa Jepang untuk Ekspatriat
- Program Visa Pelajar Internasional
- Mencari Pekerjaan di Jepang
- Sekolah Bahasa Jepang
- Frasa Email
- Bisnis Jepang
- keigo
- Bahasa Jepang untuk Eksekutif
- Tata Krama Orang Jepang
- Belajar bahasa Jepang
- Trivia Jepang
- Bahasa Jepang Dasar
- Budaya Jepang
- Bahasa Jepang Pemula
- Bahasa Jepang Lanjutan
- Salam Jepang
- Frasa Bahasa Jepang
- Pelajaran Online
- JLPT
Etiket Kartu Nama di Jepang: Cara Membuat Kesan Pertama yang Kuat
Toko Serba Guna di Jepang: Lebih dari Sekadar Makanan dan Barang Kebutuhan Sehari-hari—Pengiriman, Percetakan, dan Lainnya